Posted by: nisa | April 12, 2009

Kedewasaan = Nasionalisme??

Senang sekali rasanya, tanggal 9 kemarin adalah hari pertama saya menggunakan hak suara untuk memilih calon legislatif. Memang lucu, saya merasa senang hanya karena sudah menyontreng dan baru pertama kali setelah sekian lama, saya mengikuti pemilu. Mungkin ini yang menjadi perenungan sejenak mengapa jiwa itu timbul.

Dulu, terus-terang saya merasa pesimis dengan bangsa ini. Walaupun masih remaja (dulu) saya terkadang suka memikirkan hal-hal yang besar dan tidak menarik bagi teman-teman saya. Ya salah satunya soal bangsa ini. Tumbuh dewasa, saya banyak mengalami kekecewaan dan keheranan dengan budaya yang ada di sekitar. Esensi nilai yang berbeda-beda dan bentuk perilaku yang nyata sekali disebut sebagai “mental orang terjajah”. Bahkan sampai ke pemerintahan tertinggi sekalipun, tidak jauh berbeda. Greedy, selfish, monopoli, dan semua itu diselubungi nilai-nilai kenegaraan. Pernah sekali saya menonton acara berita tentang pemerintahan kita dan lalu teriak keras-keras, “Bull Shit!!” (mohon maaf).

Ketika sampai usia 17 tahun, mereka bilang “wah sekarang udah bisa ikut pemilu dong!” dan saya hanya merasa datar. Malah cenderung negatif seolah pemilu itu hal yang menyebalkan. Bagi remaja lain memang membosankan pemilu itu, tapi saya punya alasan yang berbeda. Pemilu = buang-buang waktu. Tidak ada pengaruhnya dan hanya menjadi ajang hanggar harga diri dan kekayaan. Malah jadi rusuh dan berbahaya. Jadi buat apa mendukung hal seperti itu?

Sekarang ini saya justru merasa senang. Sebenarnya ini hanya sebuah diskusi dengan diri saya sendiri dan akan menyenangkan sekali jika pembaca turut berkomentar. Saya merasa dibutuhkan dalam pemilu kali ini. Bukan bermaksud GR tapi karena saya tahu suara saya ada dampaknya, ada pengaruhnya, dan ada kemungkinan pertimbangan saya untuk memilih akan terwujud menjadi hasil nyata. Syukur Alhamdulillah beberapa tahun belakangan ini terjadi perkembangan baik dalam negara ini, baik secara fisik maupun mental. Memang masih minoritas tapi ADA. Itu saja sudah ‘ajaib’ buat saya dan baru kali ini nama Indonesia menghembuskan sedikit rasa cinta dalam diri saya.

Nilai kemajuan ini terlihat dalam berbagai aspek. Baik dari pemerintahan, dari dunia profesional yang pelan-pelan menjadi lebih obyektif dan tegas, pola hidup sebagian kecil masyarakat, dan pemikiran cendikiawan muda yang lebih terbuka dan wise, tidak berdasarkan panutan terhadap suatu golongan. Memang masih banyak yang ngelindur dan tidak tahu malu, tapi setidaknya ADA. Keberadaan itu merupakan sebuah hadiah manis bagi pecinta bangsa yang sesungguhnya.

Selain kondisi bangsa yang mulai berubah, kedewasaan juga mungkin menjadi salah satu faktornya. Semakin dewasa maka kita atau saya setidaknya lebih mengerti sistem dari kemasyarakatan ini, dapat melihat konteks yang lebih besar, dan konsep ‘celengan’ yakni kecil-kecil tapi menjadi gunung. Sebagai masyarakat seharusnya kita memposisikan diri kita seperti itu. Rasa percuma memilih mungkin juga didasari oleh tidak terlihatnya dampak langsung dari tindakan kita itu. Kalau kita memilih dan yang kita pilih langsung menang atau setidaknya sedetik setelah memilih langsung dapat jawaban menang atau tidak, mungkin orang tidak akan terlalu merasa percuma memilih. Konsep bahwa kita merupakan bagian dari gunung koin belum bisa diresapi semua orang.

Kedewasaan ini juga yang mengajarkan untuk bersabar terhadap hasil. Gejolak muda biasanya sulit menyabarkan diri untuk hasil yang jauh dari jangkauan walaupun sebenarnya penting. Ini juga yang menyulitkan pemerintah. Keputusan apapun bisa ditolak karena dampak langsung yang diterima sebuah golongan. Padahal ada kalanya kita dihadapkan dengan pilihan yang sama-sama buruk dan harus mengalahkan salah satu dengan resiko yang hanya kita tahu dan mau tidak mau harus terima hinaan orang. Ketika pemerintah berada dalam posisi itu kita pun gagal berempati.

Kedewasaan mengajarkan setiap orang untuk melihat lebih jauh, mau mengalah, bersabar, dan menempatkan diri sesuai dengan konteks peran dan situasi. Dalam hal ini, mungkin saja kedewasaan bangsa yang baru ini mengajarkan masyarakatnya melihat ke lingkaran yang lebih jauh, lebih luas, sehingga menyontreng bukan lagi menjadi kegiatan tidak penting tapi momen esensial dimana tanggung jawab sebagai pemangku identitas bangsa mendorong peran nyata demi kebaikan bersama.

Jadi bagaimana menurut pembaca sekalian? Apakah memang kedewasaan ini mendorong nasionalisme atau mungkin semata-mata hanya karena kondisi negara yang membaik? Jika negara kita masih sama keadaannya dengan orde lama apakah sama banyaknya orang yang antusias menyontreng seperti sekarang ini?

Posted by: nisa | April 12, 2009

Quick master degree!!

Paramadina Graduate School! Earn master degree in Diplomacy, Business, and Communication only in 3 semesters! Campus in state of art building with great library located in business district Jakarta. We also have scholarships! Please visit http://gradschool.paramadina.ac.id

Posted by: nisa | March 27, 2009

are we too selfish??

Most people would directly say no when faced to this question. That’s quite understandable actually, nobody would want their reputation to be exposed negatively. So, you readers, don’t need to claim or say anything after you read this. If it’s not you, then it’s not. No need to be offended. If it does sound like you, think about it.

These last few days there are warnings, advertisements, about global warming and how we suppose to turn off the electricity on Saturday to celebrate the “earth hour”. In many media we heard so many explanation about this earth hour thing. How good it is, how it can impact our earth, ourselves, our life, and the future. From what they say, it is absolutely important to take part in this thing. But you know what? Still there are so many what I call ‘shallow shouts’ from everywhere. Protests against the earth hour based on only their own satisfaction, their own comfort, and their ignorance of what happens in the world right now. Theme line is ‘as long as it does not do me, I don’t care’.

Here in Asia, my neighbors claimed that they will keep the lights on by that time. When I talked to them about the precious effect of turning off the lights their comments were just “so what??” The conversation pretty much went like this:

“Hey, there! Just wanna remind you about the earth hour. Don’t forget to turn off the electricity”

“The earth what? Oh, the electricity, yeah I heard about that. I think that’s ridiculous! Why would anyone go black out the universe for any reason anyway?”

“Why? For the sake for everyone’s life!”

“Naaahhh… ain nobody gonna die if the lights are still on by that time.”

“Nobody now. But the earth will have shorter life if we keep careless about this.”

“Nonsense! I would have died anyway by the time the earth run out of age!”

There’s one. And many others with many tone of ignorance and, if I may say, stupidity. At this point there are still so many people who don’t understand their position as human being in this world. The existence of human being is supposed to be completed with sense of responsibility, sense of nature, sense of future, and also consciousness, awareness of surroundings, and the trait of caring the environment. Humans are the leaders of the world. Now take a look at how our leadership has been going so far.

Did we make other creatures extinct?

Did we ‘rape’ our mother nature for our own needs?

Did we lead our subordinates to the right path?

The concept of doing small things for big things is still out of reach for some people. People are used to instant effect of everything. Take a look at those rubbish on the street. Do they consciously know that by throwing bins on the main street will lead to flood? This information is to be sure exist in their heads but they don’t understand it consciously. In the end, when the flood does come, they cry, beg for help, disappointed, and sometime curse the nature of God for letting such things happen to them. If I were God or mother nature, I’d look at their face and say loudly “it’s because of what you’ve done!! Wake up!!!”

Now. This earth hour. For whom do we turn off the electricity only for that one hour? For the earth so the earth can have a better condition. If the earth is in better condition, who will take advantage of it? Us and our love ones. Why should we do this? Because it is our duty to make sure that our generation has better place to live and our responsibility to fix what’s already damaged so we can provide a good earth for the next up-coming generation.

Imagine this. When we throw garbage on the street, everybody will do the same. There will be piles of garbage that block the water flow. When the rain comes heavily, the water has nowhere to go so it makes flood. When we use keep the TV on when we’re not home, or take a shower, or whatever and not watching it, we spend number of energy and cause number of damage on the atmosphere. The earth will have more pollution, more money spent, and dirty inhale air.

What if we change some stuff. We habit our self to turn off everything that’s out of use, roll our cellphone charger when we’re done using it, throw the garbage at its bin, turn off air conditioner when we’re out, and use less paper. What will we have? A nicer room, a better life, less money spent for electricity, better personality, and happier healthy life. What do we cost for doing that? Our energy? Well, why do we always have energy to play video games all day long or gossiping through our cellphone, and not to do those better things?

Think about it. Are we too selfish even when its for our own well-being? Define your self (you who resist to join the earth hour), are you selfish, stupid, shallow, or just plain evil?

Posted by: nisa | March 12, 2009

Krisis Karakter

Malam ini saya mendengar begitu hangatnya sebuah diskusi dengan pemimpin negara kita ini. Tidak jauh-jauh, Beliau mendiskusikan beberapa persoalan kepemimpinan dan juga negara Indonesia dari berbagai segi. Indah sekali rasanya berada dalam situasi itu. Ketika setiap orang bebas menyuarakan pendapatnya dan sang pemimpin mendengarkan. Apalagi masa sekarang ini sudah jarang pemimpin yang mendengarkan dengan posisi netral, tanpa memilih-milih informasi yang menguntungkan bagi dirinya atau tidak. Ini bukan kampanye lho!

Diskusi tersebut dilengkapi pula dengan kisah-kisah menyentuh dari para pejuang bangsa. Baik yang bertanda jasa maupun tidak. Kisah seorang Letkol di Banda Aceh yang tetap bertugas setelah tsunami padahal anak dan istrinya hilang diterjang ombak. Lalu pengabdian para guru, dan kesiapan sang pemimpin utama untuk bertindak cepat kapanpun dibutuhkan. Urusan penculikan, penyanderaan, dan keberanian untuk menerjang bahaya demi menetapi janji. Rasanya sudah lama sekali Indonesia tidak memiliki pemimpin seperti ini.

Hal ini membawa sebuah perenungan tentang bangsa ini. Memang jarang sekali semasa hidup saya muncul rasa nasionalis seperti ini sampai-sampai Indonesia menggenang dalam pikiran saya dan menjadi buah segar yang siap dikupas. Biasanya saya cenderung merasa apatis dan kecewa ketika menyebut nama Indonesia. Tapi ternyata saya salah. Sama seperti diri kita, jika kita terlanjur mencapnya negatif maka akan negatiflah selamanya. Saya sadar saya harus bisa melihat negeri ini dari sisi yang lebih positif.

Perenungan ini berangkat jauh ke zaman dahulu kala ketika Indonesia masih perawan dari penjajahan dan kehancuran. Dulu saya ingat sewaktu sekolah diajarkan guru sejarah betapa Indonesia sebenarnya negara yang ramah dan asri sebelum penjajahan terjadi. Sebuah karakter yang hangat dan terbuka terhadap dunia namun dimanfaatkan dengan keji oleh pihak luar. Ini mungkin yang menjadikan bangsa kita seperti ini hari ini.

Melihat Indonesia di masa setelah kemerdekaan, ada sebuah perubahan karakter yang cukup mengakar. Kalau kita lihat saat ini beberapa karakter negatif yang umum terlihat di wajah Indonesia adalah korupsi, mencari kesempatan dalam kesempitan, pembajakan, dan beberapa bentuk egoisme lainnya yang berdampak jelas terutama pada sektor birokrasi. Tidak heran jika dalam diskusi tadi malam disebutkan bahwa permasalahan birokrasi Indonesia terkesan seperti a never ending story.

Kita punya kekurangan. Di samping kekayaan alam dan juga junjungan nilai moral yang cukup baik dibandingkan dengan negara-negara lain. Di Indonesia, entah mungkin ada juga di negara lainnya, jalur khusus untuk berbagai hal masih sangat populer. Masih ada orang-orang yang mau menyalahi prosedur demi kepuasan pribadi. Di Indonesia, banyak pihak yang ingin melihat hasil-hasil instan dari keputusan pemerintah dan melakukan demo jika hasil tersebut tidak instan. Di Indonesia para wakil rakyat mendapat privilege luar biasa hanya dengan mendengkur di ruang sidang. Di Indonesia sebagian pejabat merasa nyaman hidup kaya dengan uang pajak yang kadang harus dibayarkan warga dengan keringat dan pengorbanan. Di Indonesia sebuah pilihan bisa dipengaruhi oleh uang dan janji-janji instan, dalam pemilu misalnya, modal rokok dan uang saku siapapun mau kampanye untuk partai apapun, namun nantinya protes ketika pemerintahan tidak berjalan sesuai keinginan. Di Indonesia harga hanya bisa bergeser naik dan hampir tidak pernah turun sekalipun pemerintah sudah membuktikan kemungkinan itu.

Masih banyak lagi sebenarnya. Terlepas dari permasalahan yang sama terjadi atau tidak di negara lain, ada baiknya kita merenungi diri sendiri. Jika ditelaah lebih dalam, permasalahan ini tetap berakar walaupun berbagai metode diimplementasikan untuk mengatasinya. Koruptor diberantas KPK namun di lingkup rakyat kecil masih terjadi walaupun kecil-kecilan. Dari mana datangnya ini semua? Apakah bangsa ini memang sudah sedemikian buruk rupa sejak dulu?

Kembali ke masalah penjajahan tadi. Ini hanya sebuah pemikiran saya. Indonesia adalah negara yang kaya, asri, ramah, hangat. Lalu datang para penjajah yang disambut ramah namun malah menggilas keramahan itu dengan kapitalisme. Selama kurang lebih 350 tahun Indonesia berada dibawah feodalisme dan tentunya hal ini memberi dampak luar biasa terhadap karakter bangsa yang tadinya ramah dan baik. Setiap orang tahu bahwa butuh waktu sangat lama untuk merubah perilaku seseorang. Nah, 350 tahun adalah waktu yang cukup lama dan tentunya telah merubah karakter Indonesia dalam beberapa generasi pada masa itu.

Semasa penjajahan, rakyat hidup di bawah tekanan, tindasan. Kebahagiaan dan kesenangan hanya menjadi iming-iming yang tak kunjung datang. Coba bayangkan kita hidup di masa itu. Makan saja sulit, harus menyenangkan majikan dulu. Kalaupun mau mengusahakan sesuatu ya harus dengan jalur-jalur yang dipaksakan. Kalau ingin mendapat nasi lebih banyak harus diam-diam mencuri tanpa sepengetahuan menir-menir yang sedang jaga. Ancaman hukuman agitasi begitu gamblang dan mudah diberikan. Bahkan nyawa pun tidak ada harganya. Anak-anak yang lahir dalam masa itu terbiasa dengan mayat bergelimpangan, siksaan, dan selalu mencari kesempatan hidup dalam keadaan yang paling sempit sekalipun. Hidup adalah sulit. Hidup adalah perjuangan dan setiap kesempatan harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Curang atau tidak bukan lagi masalah karena untuk menyambung hidup.

Bisa dibayangkan bangsa kita hidup seperti itu selama lebih dari 3 abad. Iya, 3 abad! Itu waktu yang sudah cukup untuk merombak sebuah sistem kehidupan dan sistem kehidupan seperti ini telah membentuk karakter-karakter baru yang terbiasa dengan mencari kesempatan. Akhirnya rakyat Indonesia pun lahir dan tumbuh dengan situasi mental seperti ini.

Setelah merdeka, kebebasan datang. Kebebasan, sebuah makhluk baru yang asing dan sudah hampir terlupakan. Penyesuaian pun perlu dilakukan agar terbiasa dengan kebebasan ini. Memang euforia kemerdekaan masih begitu membekas dan kehidupan baru pun mulai disusun. Orang-orang yang ikut serta dalam kemerdekaan tentu akan bersikap sebaik mungkin demi menjaga kebahagiaan negara tersebut agar tetap terus ada. Namun pola hidup yang selama 3 abad mereka lihat adalah seperti para penjajah selama mereka berdomisili di bumi Indonesia. Budaya original 3 abad yang lalu sudah tidak ada yang melestarikan dan kini Indonesia memulai sistem kehidupan baru. Rasa senang, nyaman, dan hasrat bebas yang sudah lama terpendam mengarahkan rakyat untuk melakukan berbagai hal baru. Mereka ingin merasakan menjadi bos, ingin kaya, ingin menjadi terkaya, ingin berkuasa, ingin merasakan kehidupan tuan-tuan mereka yang sudah pulang ke negara mereka yang selama ini mereka jilati telapak sepatunya. Hasrat ini begitu besar dan kadang bisa menggelapkan mata.

Sampai disini perjalanan karakter bangsa sudah mengalami transisi. Bukan lagi kaum tertindas tapi orang-orang yang penuh hasrat untuk merasakan kebebasan. Kebiasaan mencari keuntungan, mencari kesempatan masih membekas dan bergabung dengan hasrat kebebasan tadi sehingga melahirkan fenomena-fenomena baru. Setiap ada tekanan, Indonesia terbiasa secara otomatis mencari jalan lain terlepas dari benar atau tidak namun yang penting kebutuhan terpenuhi. Ada tekanan; harga DVD yang mahal. Sementara ada hasrat untuk hidup seperti orang Barat yang bisa dengan bebas menikmati hiburan film-film Hollywood, maka otak pun bekerja mencari jalan lain. Jadilah pembajakan. Krisis ekonomi, tapi masih ada saja orang-orang kaya yang mengimpor mobil termahal dunia. Dan lain sebagainya.

Kenyataan ini seolah menggambarkan betapa Indonesia negara yang sulit. Ada yang kelaparan, ada yang miskin, padahal kalau dilihat kekayaan alamnya begitu luar biasa. Hasil pertanian yang tak terbatas, nomor satu penghasil air biothermal di dunia, minyak juga ada, dan sumber daya renewable energy yang tidak sedikit. Jadi masalahnya dimana? Hutang, korupsi, birokrasi, dan lain-lain. Apa akar dari itu semua? Mana yang harus diperbaiki terlebih dahulu?

Permasalahan karakter ini memang sulit untuk dirubah. Namun jika ada yang memulai mudah-mudahan ada yang mengikuti. Kebutuhan figur pemimpin yang benar sudah mulai muncul dan Indonesia sudah bisa menyuarakannya. Tidak seperti sebelumnya dimana tampuh kepemimpinan dimonopoli oleh 1 orang. Kesadaran-kesadaran baru mulai muncul. Kelelahan untuk hidup dalam sistem yang carut-marut mulai diresapi oleh generasi baru Indonesia. Sistem pun mulai berubah. Dalam dunia kerja, profesionalisme mulai menemukan jati dirinya kembali. Tidak lagi dengan koneksi tapi analisis potensi dalam menerima tenaga kerja. Memang belum sempurna, tapi angin perubahan itu sudah mulai semilir.

Alhamdulillah, di tengah situasi yang sulit Indonesia mulai terlihat optimis. Permasalahan karakter yang paling mendasar ini mulai bisa diatasi dengan disiplin yang tegas dan role model yang kuat. Indonesia mulai memiliki kedua hal ini. Memang prosesnya masih lama. Tentu sulit memulihkan sesuatu yang sudah rusak berabad lamanya, namun usaha sekecil apapun pasti bisa memberikan dampak. Satu hal yang menurut saya paling penting adalah kita harus merasa menjadi bagian dari Indonesia. Bukan hanya sekedar kebetulan lahir disini dan asal ikut aturan yang ada. Ketika kita membicarakan bangsa Indonesia, tidak lain kita membicarakan diri kita sendiri. Kita selalu menuntut kehidupan yang lebih baik dan tidak bisa menyuruh orang lain memenuhinya untuk kita. Kita adalah bagian dari sebuah bangsa. Dengan kata lain kita adalah bagian dari orang lain, seburuk apapun mereka. Merubah diri, mengevaluasi karakter ke-Indonesia-an kita setidaknya akan memberikan pengaruh yang signifikan bagi orang terdekat di sekitar kita. Ujung-ujungnya kita akan bisa mengangkat sedikit karakter bangsa kita. Seperti kata pepatah “Think big, take small steps, start right now!”

Insya Allah Indonesia menjadi lebih baik.

Amin.

Posted by: nisa | February 24, 2009

wanita (a letter to men)

Ada banyak perspektif ketika ciptaan yang satu ini diangkat ke permukaan. Kalau di brainstorming dan ditanyakan kepada para laki-laki, apa yang muncul dalam pikiran ketika mendengar atau melihat “wanita”? Jawabannya pasti bervariasi. Namun secara garis besar berorientasi pada fungsi atau peran yang menempel dengan kata tersebut: seks, cinta, yang melahirkan/ibu. Bagi laki-laki lainnya, dengan tipe-tipe tertentu, mungkin akan berbeda: disgusting, annoying, trouble. Ada juga yang menganggap wanita sebagai figur yang besar dan menakutkan, bukan takut karena ngeri tapi takut karena rasa tidak percaya diri. And so on…

Kalau dari sisi wanita sendiri, “wanita” means “me”. Walaupun ada juga yang menolak itu dan justru merasa “wanita” sebagai sesuatu yang ingin ia lepaskan. Mungkin perasaan yang satu ini tidak terbaca oleh orang lain, terutama laki-laki. Tapi ada kalanya jabatan ini begitu menyulitkan dan menyesatkan bahkan untuk diri sendiri. Dan tentunya sangat sedikit pemegang jabatan ini yang mengakuinya dengan gamblang. Bahkan menyadarinya juga tidak. Well, we are sometimes lost in ourselves.

Emosi merupakan tokoh utama dalam kehidupan wanita pada umumnya. Terlepas apakah dia tokoh jahat atau baik. Memang sih, sebenarnya si tokoh ini dibawah kendali sang sutradara, tapi seringnya ia begitu dominan dan mulai menentukan jalan ceritanya sendiri. Ada perasaan aneh ketika hal ini terjadi. Sebuah perasaan bertentangan yang sulit untuk dikontrol. Ketika emosi atau perasaan menginginkan sesuatu, di saat yang sama pikiran mengatakan bahwa tindakan yang sedang dipikirkan ini tidak masuk akal. Biasanya emosi akan memenangkan pertarungan dan pikiran pun hanya akan menjadi suami yang memaklumi istrinya. In the end, barulah datang penyesalan mengenai betapa bodohnya kita tadi! Haha…

Contohnya begini. Ketika emosi membutukan perhatian, butuh pujian, dari orang yang paling dicinta, akan muncul puluhan ide untuk mewujudkannya. Ide-ide ini sering memakan waktu lama nyangkut di pikiran karena rasa bertentangan tadi. Jadi kira-kira begini yang terjadi dalam benak wanita (mungkin pembaca bisa melihat maksud “lost in ourselves”):

- Mungkin meminta langsung lebih baik? Sayang, perhatiin aku dong! Ha! tapi kalau begitu nanti dia terpaksa melakukannya. Pilihan ini sering dihindari oleh wanita karena berbagai perasaan lain yang muncul.

-Bagaimana kalau melakukan sesuatu yang mencuri perhatiannya? Beli baju baru, merubah dandanan, melakukan aktifitas baru? Kalau pilihan ini biasanya dilakukan oleh wanita yang cukup kreatif dan mandiri. Kalau pasangannya bukan tipe orang yang cuek, umumnya akan berhasil. Tapi kebanyakan wanita malas untuk repot-repot begini. Atau gengsi. Nanti sudah susah-susah taunya gak berbalas.

-Bagaimana kalau merubah sikap? Membuat dia merasakan bahwa ada sesuatu yang berubah? Nah, kalau yang ini gambling. Karena Reaksi pasangan bisa jadi malah negatif dan berkebalikan.

-Pura-pura sakit atau disakiti? Biasanya wanita-wanita manja yang melakukannya. Wanita yang penuh rasa bergantung sehingga usaha yang satu ini terlihat begitu desperate dan memaksa. Seringnya hal ini gagal karena sebagian besar laki-laki malah merasa risih dengan kemanjaan yang berlebihan ini. Dan anehnya, biasanya wanita dengan karakter ini tidak kapok-kapok untuk melakukannya terus-menerus. Well, like I said.. desperate try.

-Ada yang justru menunjukan perhatian ekstra pada pasangannya. Hal ini dilakukan dengan harapan sang pasangan pun akan memberikan hal yang sama kepadanya. Biasanya yang melakukan ini wanita yang terlalu baik, ramah, lembut, murah senyum, tapi walau bagaimanapun juga kebutuhan itu tetap ada. Sering gagal usaha ini kalau pasangannya bukan tipe sensitif, dan sama juga, wanita tipe ini pun tetap tidak menyerah dengan usahanya.

-Ada yang justru menjadi dingin dan galak. Terkesan tegas dan tidak mau diganggu padahal justru sangat ingin diganggu. Aha! yang ini biasanya menjadi tantangan tersendiri bagi para lelaki pecinta wanita. Mungkin bagi para lelaki, karakter ini terkesan lucu, melihat sang wanita sibuk dengan dirinya sendiri yang butuh tapi gengsi. Biasanya wanita-wanita ini justru malah suntuk sendiri dengan kesendiriannya. Ia sering tidak dapat menerjemahkan perasaannya sendiri dan semakin putus asa karena mengharapkan sesuatu yang justru ia buang sendiri.

Masih ada kombinasi-kombinasi lainnya, namun secara garis besar, yang benar-benar kelihatan yang ini. Dalam kondisi sadar para wanita sering mengakui kebutuhannya, namun ketika tokoh utama tadi beraksi di depan layar berbagai penolakan a.k.a denial mulai bermunculan. Now, here’s a little secret, semakin besar denial nya, semakin besar kebutuhannya. Hehehehe but sometimes karena sifatnya yang samar-samar seperti ini, sering sulit untuk membedakan mana yang fakta dan bukan ketika wanita berbicara.

Intinya emosi. Feeling. Satu-satunya cara mengendalikan wanita adalah dengan memberinya rasa comfort. RASA bukan ALASAN atau PENJELASAN, atau hal lainnya yang diproduksi pikiran. Jadi kalau laki-laki menjelaskan berbagai alasan untuk sebuah hal yang membuat pasangannya marah, maka sering menjadi percuma. Mau selogis apapun, sesempurna apapun alasan yang sudah dirangkai tapi kalau itu tidak membuatnya nyaman, maka percuma.

Memang banyak juga wanita yang cukup pintar untuk membaca arah pikiran laki-laki. Melihat fakta dibalik alasan. Mendengar kenyataan lain di balik kata-kata yang lain pula. Toh, wanita memang ciptaan yang lebih tajam intuisinya sehingga sering mengetahui kebenaran tanpa perlu penjelasan logis. Kalau sudah begini satu-satunya cara adalah mengaku atau leave the ball to her. Kasih kendali kepadanya, terserah dia mau berbuat apa dan play along! Ikuti saja permainannya. Dengan begitu kebanyakan wanita akan merasa dihormati bahkan di saat yang tidak mengenakan.

Memang secara umum begitu banyak hal menyusahkan dalam diri wanita. But in the essence, wanita juga penuh dengan magic dan keindahan. Magic, ketika ia bisa merubah suasana hati, ketika ia bisa memunculkan rasa nyaman luar biasa, membuat sebuah interaksi menjadi kenangan manis, sebuah sentuhan memunculkan rasa hangat, cinta terasa ajaib bagi laki-laki karena sering membuatnya lepas kontrol dan menentang pikirannya sendiri sementara bagi wanita cinta adalah energi, keajaibannya adalah hal yang lumrah. Indah, bukan hanya secara fisik, tapi keindahan yang melengkapi dunia ini berasal dari wanita, dari our mothers. Rumah dan bangunan punya warna-warna, pakaian bisa berbentuk menarik, perhiasan, dan lain sebagainya. Dalam konteksnya sebagai ibu, wanita menjadi jauh lebih indah. Terlepas dari berbagai kebutuhan dirinya yang membuatnya sering tidak terkontrol, tapi loyalty dan dedication adalah dua hal yang bersinar dalam hati seorang ibu bahkan dalam kondisi seburuk apapun.

So here’s about woman. What are you going to do about it? Once, seseorang pernah mengatakan bahwa laki-laki adalah pemimpin dunia, raja, primary, dan superior dibandingkan wanita. Oleh karena itu menggunakan posisi itu untuk menjadikan wanita lebih indah, dan bukan mengeksploitasi demi kebutuhan ego or birahi, menjadi sandaran atau tempat bagi wanita untuk menari, melompat, mengeluarkan segala perasaanya, dan tetap memastikan bahwa ia merasa terlindungi, are the best things to do. Toh, jika wanita menjadi lebih indah, para laki-laki juga yang akan menikmati keindahan itu.

Emosi wanita adalah seperti rekening bank. Memberikan perhatian, kasih sayang, pujian, perlindungan, rasa bahagia, adalah deposit rekening perasaan sehingga saldonya bertambah. Mengecewakan, menyakiti, mengabaikan, mengkhianati, adalah penarikan rekening sehingga saldo akan berkurang. Jadi sebaiknya, menabunglah yang banyak sehingga ketika harus melakukan pengeluaran pengaruhnya tidak akan terlalu besar dan rekening tersebut masih terus aktif.

Well, what do you think? =)

Posted by: nisa | April 25, 2008

To lead or to boss ….?

Banyak orang saat ini mengartikan “kepemimpinan” sebagai sesuatu yang lain. Kepemimpinan sebagai jabatan, kepemimpinan sebagai status, kepemimpinan sebagai kekuatan, kewenangan, derajat, kekuasaan, dan lain sebagainya yang mungkin dikemas dengan keramahan senyuman seorang pemimpin setiap harinya.

Apa sih sebenarnya kepemimpinan itu? Bagaimana sebenarnya memimpin itu?

Dalam sebuah kelompok, seorang pemimpin adalah seorang yang paling menonjol dan banyak mengambil keputusan. Secara umum memang kelihatannya dialah yang berkuasa dan anggota kelompok lainnya adalah anak buah yang menoleh kemanapun jari pemimpin menunjuk. Dia adalah orang yang paling dihormati, disuguhi ini dan itu. Dialah orang yang membuat orang lain harus tunduk hormat, mencium tangan, mengatur senyuman dan tata bicara, membuat orang takut, disegani dan ditaati. Percaya atau tidak, hal-hal yang disebutkan barusan justru, belakangan ini bagi setiap orang, menjadi tujuan utama untuk mengejar posisi pemimpin tersebut. Padahal tanpa disadari itu semua hanyalah dampak dari kepemimpinan namun bukan esensi dari kepemimpinan itu sendiri.

Jadi siapa sebenarnya pemimpin itu?

Dalam sebuah kelompok, seorang pemimpin adalah orang yang paling banyak mengemban tanggung jawab, orang yang paling berpikir keras sebelum mengambil keputusan, orang yang nomor satu menanggung resiko, yang bertanggung jawab untuk memberikan arahan yang benar pada anak buahnya, orang yang berada di baris depan dalam menghadapi keadaan terburuk sekalipun, dan orang yang merasa resah ketika yang dipimpinnya mengalami kesengsaraan. Tugas yang berat. Ironisnya justru pemimpin-pemimpin yang ada sekarang malah duduk di belakang meja, bersembunyi dibalik barisan anak buahnya, dan merasa selalu benar, menyalahkan orang lain seolah dirinya sendiri tidak pernah salah, dan begitu penuh dengan tuntutan. Padahal ketika anak buah berbuat kesalahan, maka pemimpin turut andil dalam kesalahan tersebut karena tidak bisa memimpin dengan baik. Ketika anak buah pergi maka pemimpin seharusnya membaca diri, apa yang telah ia perbuat?

Pernah dengar kisah tentang sahabat Rasulullah? Dua orang umat Rasul diharuskan melakukan perjalanan jauh dengan sebuah unta. Yang seorang adalah mantan budak dan seorang lagi adalah mantan bangsawan. Karena merasa lebih rendah dari teman seperjalanannya, si mantan budak berkata,

”Saudaraku, pimpinlah perjalanan ini dan aku akan menjadi anak buahmu.”

Lalu temannya menjawab.

”Tapi memimpin itu bukan tugas yang mudah.”

”Kumohon, saudaraku. Engkau lebih pantas menjadi pemimpin daripada aku. Naiklah ke atas unta dan aku akan patuh menuntunmu.”

”Baiklah” sang mantan bangsawan pun turun dari untanya dan menarik tali kendali sambil berkata,

”Aku akan memimpin perjalanan ini. Kau anak buahku, naiklah ke atas unta.”

”Tapi engkaulah pemimpinnya, saudaraku. Engkaulah yang seharusnya berada di atas unta.”

”Tidak. Aku akan memimpin di depan, memastikan jalan yang akan kau lalui aman dan selamat. Aku akan memimpin di depan untuk membawamu menghindari lubang dan duri. Engkau anak buahku, akan kumpimpin sampai ke tujuan dengan selamat.”

Akhirnya sang anak buah pun menyesal telah meminta temannya untuk memimpin, namun di saat yang sama ia justru menjadi anak buah yang paling patuh karena merasa dipimpin dengan baik.

Lalu apa bedanya dengan jadi Boss? Mengapa ada julukan ”bossy” untuk orang-orang yang suka mengatur?

Sekarang ini banyak orang yang memegang jabatan lebih tinggi dan seketika merendahkan mereka yang memegang jabatan di bawahnya. ”Merendahkan” bukan berarti menghina, memarahi, memaki, dan lain sebagainya. Tetapi merendahkan seolah dirinya lebih sempurna dari mereka. Memaksakan anak buahnya untuk bekerja lebih hanya karena sebuah alasan ”saya tidak mau menyelesaikannya sekarang”, merendahkan anak buahnya karena memiliki pendapat yang berbeda, tidak memaafkan dan di saat yang sama tidak sudi atau merasa tidak pantas untuk meminta maaf ketika sudah jelas-jelas melakukan kesalahan. Mengapa harus berkata ”saya mau kamu melakukan ini dan itu” seolah mereka adalah budak? Mereka adalah anak buah dan pemimpin membutuhkan mereka sebagaimana mereka membutuhkan pemimpin.

Wahai para pemimpin, entah apapun yang engkau pimpin. Sudah menjadi pemimpin seperti apakah dirimu? Apa yang engkau rasakan ketika pertama kali ditunjuk sebagai pemimpin? Jika wajahmu sumringah, maka harus engkau tanyakan lagi hatimu, untuk apa engkau mempimpin? Namun jika engkau merasakan tanggung jawab berat yang harus dipikul, maka yakinlah Allah akan membantumu untuk menjadi pemimpin yang baik. Tidak penting pengakuan dari orang lain, tidak penting penghargaan dari orang lain. Seribu orang menyembah sujud kepadamu lalu apa artinya? Akankah itu menjamin sesuatu? Akankah itu memberimu surga dan bahagia? Hanya kesombongan. Dan ketika berhadapan dengan Allah yang lebih besar (Allahu Akbar) maka kebanggaan diri itu hanya menjadi debu yang tertiup angin. Engkau menjadi pemimpin karena ada anak buah. Jika tidak ada anak buah engkau tidak akan menjadi pemimpin. Lalu apa yang sudah engkau berikan kepada mereka? Apakah sumbangan kepemimpinanmu akan dikenang??

Dalam hidup ini ada kalanya kita menjadi yang dipimpin dan menjadi pemimpin. Tergantung dimana kelemahan kita maka Allah akan memberikan posisi itu sebagai pelajaran utnuk memperbaiki diri. Sudahkah kita menjadi anak buah yang baik? Atau sudahkah kita menjadi pemimpin yang baik? Jika merasa sudah menjadi pemimpin yang baik, tanyakan anak buah kalian, minta mereka untuk jujur, apakah mereka bangga memiliki pemimpin seperti kalian?

-Leader Series

Posted by: nisa | April 25, 2008

Forever Leader….

Ada pepatah yang mengatakan “hidup ini kadang di atas kadang di bawah”. Begitupula dengan kepemimpinan. Kadang memimpin, kadang dipimpin. Ada kalanya kita menjadi karyawan, ada kalanya kita menjadi atasan. Bahkan ada yang seumur hidup hanya menjadi karyawan saja. Tidak pernah memimpin. Tapi apa benar dia itu tidak pernah memimpin?

Dari semua dunia yang mengikat kita, dunia kerja, dunia keluarga, dunia pertemanan, dunia kampus, sekolah, dan lain sebagainya, ada satu dunia yang hanya akan selalu berada di bawah kepemimpinan kita. Dunia yang merupakan kerajaan kita sendiri dimana kitalah pusatnya, kitalah yang memimpinnya, mengambil keputusan untuknya, dan membawanya kepada tujuan yang lebih baik. Sayangnya, banyak yang tidak menyadari atau mengabaikan dunia tersebut.

Dunia kecil ini kita beri nama = DIRI (Dunia Sendiri / Dunia Pribadi).

DIRI jumlahnya sangat banyak di Bumi yang bulat ini. Setiap DIRI merupakan sebuah negara atau kerajaan yang mungkin tidak kelihatan secara fisik, namun sangat nyata menjadi bagian dari dunia-dunia yang lebih besar. Setiap DIRI tumbuh dan berkembang di lokasi yang berbeda-beda, memiliki sistem kenegaraan yang berbeda-beda pula, dan sebagaimana negara pada umumnya, jika memiliki sistem yang kacau maka akan sangat terlihat jelas oleh negara-negara lainnya.

Apa sajakah yang menjadi elemen dari DIRI? Atau siapa sajakah warga negara DIRI ini?

Banyak! Ribuan kajian psikologi menjabarkan berbagai elemen-elemen dari diri ini. Tapi secara umum mereka adalah pikiran, perasaan, dan kesadaran. Pengalaman adalah bagian dari memori yang ada di pikiran, harapan adalah produk atau tujuan yang ingin dicapai. ketakutan, kesedihan, kekecewaan adalah bagian dari perasaan dan di atas itu semua ada sebuah jabatan tertinggi yang harus memimpin berbagai elemen tersebut. Siapakah yang mendudukinya? Anda. Siapakah Anda? Nurul? Bukan, itu nama Anda. Lalu siapa Anda? Anda adalah makhluk yang dilahirkan untuk mempimpin. Pernah dengar ayat yang mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah? Untuk menjadi pemimpin? Memimpin apa? Memimpin dunia yang paling kecil dulu (DIRI) sebelum memimpin dunia yang lebih besar.

Jadi bagaimana sebenarnya memimpin DIRI itu?

Memimpin diri artinya berada dalam kesadaran dan mengetahui segala proses yang terjadi dalam diri. Banyak orang yang membiarkan dirinya terombang-ambing dunianya tanpa pernah waspada. Mereka inilah yang sering mengatakan bahwa prinsip hidupnya adalah “go with the flow”. Lalu bagaimana kalau ternyata “flow” itu menghanyutkan kepada arah yang tidak baik? “Pasrah saja, toh nanti juga berlalu”. Lalu akan menjadi apa Anda ketika sampai pada akhir dari “flow” itu?

Memimpin diri artinya menentukan bagaimana DIRI ini bergerak. Menentukan kapan emosi boleh bergejolak, kapan pikiran harus berhenti, kapan harus marah, kapan harus memaafkan, kapan harus menerima, kapan harus belajar. Stephen Covey pernah menjabarkan bagaimana kita sebenarnya mempunyai pilihan untuk bereaksi. Demikian pula dengan memimpin DIRI ini. Kita selalu punya pilihan dan jangan pernah biarkan orang lain atau keadaan yang mengambil pilihan untuk diri kita.

Bayangkan ketika seseorang yang Anda kenal lewat di depan Anda. Anda menegurnya dan ia sama sekali tidak menjawab, malah berkerut wajah. Apa yang Anda rasakan? Tersinggung? Lalu apa Anda lakukan? Membicarakan kesombongan orang itu dengan teman Anda yang lain? Lalu itu akan meninggalkan secercah emosi negatif pada diri Anda mengenai orang tersebut. Setiap bertemu dengannya Anda langsung merasakan emosi negatif itu dan memakinya dalam hati. Tahukah Anda apa yang baru saja terjadi? Anda menyerahkan wewenang untuk mengendalikan diri Anda kepada orang tersebut. Ya! Orang yang Anda benci itu. Hanya dengan melihat wajahnya, Dia sudah bisa membuat Anda kesal. Itu tandanya emosi Anda, yang merupakan anak buah Anda / warga negara Anda telah mematuhi pemimpin negara lain dan Anda membiarkan hal itu terjadi berulang-ulang.

Bagaimana jika ketika mendapat stimulus itu (teman anda berkerut wajah ketika ditegur) Anda langsung memimpin diri Anda? Pikiran yang menjabarkan aksi itu sebagai bentuk kesombongan, Anda perintahkan untuk diam. Lalu berpikirlah lebih kreatif, mungkin ia sedang ada masalah atau sedang ingin ke kamar mandi? Lalu maafkan hal itu. Dalam keadaan lain Anda bisa berada dalam posisi itu dan tidak terima ketika orang lain begitu saja menilai Anda sombong. Dengan begitu tidak perlu ada kebencian, tidak ada emosi negatif yang menggerogoti anda setiap kali bertemu dengannya, dan elemen DIRI anda akan patuh pada pemimpinnya. Percaya atau tidak, dunia akan terlihat lebih indah dengan begitu.

Hal lain yang juga menjadi hal yang sangat lucu adalah ketika berbincang dengan teman yang menceritakan tentang dirinya sendiri. Dia berkata begini

“mungkin saat itu aku sedang kesal. Mungkin aku kurang mengerti maksud dari omongannya. Mungkin aku

harus minta maaf sekarang.”

Lucu bukan? Dia membicarakan dirinya seolah membicarakan orang lain. Mengapa harus “Mungkin saat itu aku sedang kesal”? Mungkin?? Apakah itu tandanya dia tidak tahu pasti tentang dirinya sendiri? Mungkin?? Apakah dia tidak mengenali diri yang dia bawa-bawa kemanapun pergi 24 jam sehari seumur hidupnya? Mungkin?? Anehnya hal ini justru sudah menjadi pembicaraan yang biasa. Berarti semakin banyak orang yang tidak yakin dengan sifat yang dimilikinya sendiri.

Kunci kepemimpinan DIRI ini adalah sabar. Sabar bukan berarti pasrah, tetapi memberi ruang sejenak agar bisa menganalisa situasi dengan lebih baik. Sabar, biarkan kepemimpinan diri ini berperan, barulah mengambil keputusan. Ketika datang sebuah stimulus, sabar, beri ruang sejenak untuk menganalisa, reaksi apa yang sebaiknya diambil? Reaksi mana yang akan mendamaikan kedua belah pihak dan berdampak positif bagi keduanya? Bagaimana menyampaikannya dengan baik? Baru bertindak. Jadilah pemimpin DIRI yang baik. Karena, berbeda dengan warga negara lain, warga negara DIRI akan melapor pada sang Pencipta nantinya tentang kepemimpinan seperti apa yang selama ini mereka peroleh. Jangan sampai terlambat untuk merubahnya…..

-Leader Series

Posted by: nisa | August 21, 2007

Filing up our mind…

did you know that the way computer works is actually adopted from the way our mind works?? sure we know… computers have memory and so does our mind, computers have processor and so does our mind. but there’s always something different between our mind and the computer…

It’s not just that the computer is a machine and human mind is an organ, but there is something else different. it’s the input and output itself. Mr.D (Dikara barcah a.k.a one of my favorite lecturer) once taught us the concept of GIGO or also known as “Garbage in Garbage out”, means that no matter what we insert to the computer then that’s exactly what comes out of it. that’s the different!! our mind doesn’t really work like that, or suppose not to work like that..

One major different between our mind and the computer is that our mind is alive, it is a part of the soul in our self. the computer is a machine, something that human made, something that is made by the human mind. this major different is also the basic concept of information that is saved in our mind and in the memory of the computer..

information in our mind is alive… information in the computer memory does not alive. and what does alive means? it can move, it can do something, it can influence something. information in computer does not move anywhere unless we retrieve it, delete it, open it, close it, their activity is always based on our instruction, our command. different thing is that information in our mind move itself, even worse, it can influence us, or rule us….

take an example of an information that we get from a chat. someone says that miss X is a very inpolite person. she is a terribly bad person. and that person says that she spanks her child every morning. we may listen to that information accidentally but still that information has been delivered into our mind. it interacts with other information in our mind just like a new neighbor that just moved in. and then one day we met miss X and somehow we arranged a nice morning jog together. she didn’t show up. we were a little upset. the next day she didn’t show up again although this morning she had apologized. the second time she broke her promise we were too disappointed and dislike her right away. maybe she is a bad person, just like that woman said before…

turns out that she had too take care of her sick mom, or she was sick, or even if she lied, maybe she doesn’t want us to know that it was actually hard for her to join our jog. if she was a new friend that we had never heard about before we might react differently. we may visit her and ask her why nicely instead of making unfair judgement without any true evidence…

another example is an ad. we see an ad of an electronic store. we did not need any electronic equipment at that time. but when comes the time we need one, suddenly that electronic store name pop up in our mind. we does not like alcohol but suddenly when we are troubled we start to imagine the joy of swallowing alcohol. etc… etc….

So what to do???

we file them! we file those information. 3 step in filing information in our mind.

1. Analise the info we receive. is it good info or bad info? good info has evidence and does not judge negatively toward someone or something.

2. Filter. bad info, get rid of it. literary tell to our self “get out of my mind!” and save the good one.

3. Filing. filing means put it in the right file. info about school put in the school folder that we create in our mind. info about movies, put in the folder movie that is put inside the recreation folder. mom,dad,sister,brother are in the family folder. tika,delia,icha,issey,nadia,rani are in friends folder. etc… etc…

Believe it or not, it will help us remember easily the things that we’ve recorded in our mind. smart people save their datas in neat filing. take a peek on their computer. they have almost all files in the connected folder. that represent their mind. now take a look at your My Documents folder. are those files arrange neatly? or there are still some files lost without identity or without a home (folder)??

Posted by: nisa | August 17, 2007

The queen of my will…

Sitting in shadow…. nothing really cross my mind, i’m drown in the crowd of loneliness…

i was talking to someone actually, someone important and strong, someone that really makes me consider my self as a low, weak and lame existance…

she…. is a she

dressed up in glamorous, glittery, shinning clothes and crown…. at least that’s how i imagine her… and she has the exactly same face as mine, same height, same skin color, same eyes color, hair color, same breathe, even same part of a soul…

the only different thing between us is that she has everything i want and i don’t…

just looking at her makes me realize something is emerging deep inside my mind, the small spot between the nerves of my brain… something bitter that stomp my feelings of jealousy and envy… i want that… i want everything she has… all of them!!! all physical things and all power!

but hey….

if i have all those clothes… all those beauty… all those crown… all those power where people put their heads in front of my feet… all those wealthiness… all those thing she has that every woman wanna have… all those!!

so what?

would i be happy? would i treat people the way i do right now? will i have the same friends as i have right now? will someone care for me if i’m sick? and most of all…. will he, the prince whose sword made of my soul and shield made of my heart, ever love me even with a small spot of his heart??

say… that’s not pretty…

if that’s the definition of “pretty” then i’d rather be the ugliest duckling ever!! that’s not what i want.. i wont be happy…

so i stood up… staring that woman of glory right at her eyes and stepped bravely toward her… she was confused

“you” said me… she did not answer nor respond in any other way..

“you are beautiful and gorgeous in every eyes that can normally see… yet you are nothing but a statue of emptyness who doesn’t have a self without all those things plugged on your body…

you are a part of me.. you are everything i want… you are my wildest dream in material world..

but no matter how shinning you are, no matter how much power you think you have… and no matter how many golden and diamond crown you have… you are not the queen…

you are not MY queen…

it’s the other way around. from now on you will obey me.

now leave.”

and so she left as my eyes started to open wide. i looked at the man of my life lying down right beside me, spoiling himself between the clouds of dreams. i smiled, kissed his face with prayers flowing through my breath.

i am sure he will wake up in a every strange feeling as he will see i am not there anymore.. but i do leave him a little note right on his side that says,

“i’m leaving early. forget about the shoes and bags :p love’ya!!”

hah… i feel much better… :p

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.