Banyak orang saat ini mengartikan “kepemimpinan” sebagai sesuatu yang lain. Kepemimpinan sebagai jabatan, kepemimpinan sebagai status, kepemimpinan sebagai kekuatan, kewenangan, derajat, kekuasaan, dan lain sebagainya yang mungkin dikemas dengan keramahan senyuman seorang pemimpin setiap harinya.
Apa sih sebenarnya kepemimpinan itu? Bagaimana sebenarnya memimpin itu?
Dalam sebuah kelompok, seorang pemimpin adalah seorang yang paling menonjol dan banyak mengambil keputusan. Secara umum memang kelihatannya dialah yang berkuasa dan anggota kelompok lainnya adalah anak buah yang menoleh kemanapun jari pemimpin menunjuk. Dia adalah orang yang paling dihormati, disuguhi ini dan itu. Dialah orang yang membuat orang lain harus tunduk hormat, mencium tangan, mengatur senyuman dan tata bicara, membuat orang takut, disegani dan ditaati. Percaya atau tidak, hal-hal yang disebutkan barusan justru, belakangan ini bagi setiap orang, menjadi tujuan utama untuk mengejar posisi pemimpin tersebut. Padahal tanpa disadari itu semua hanyalah dampak dari kepemimpinan namun bukan esensi dari kepemimpinan itu sendiri.
Jadi siapa sebenarnya pemimpin itu?
Dalam sebuah kelompok, seorang pemimpin adalah orang yang paling banyak mengemban tanggung jawab, orang yang paling berpikir keras sebelum mengambil keputusan, orang yang nomor satu menanggung resiko, yang bertanggung jawab untuk memberikan arahan yang benar pada anak buahnya, orang yang berada di baris depan dalam menghadapi keadaan terburuk sekalipun, dan orang yang merasa resah ketika yang dipimpinnya mengalami kesengsaraan. Tugas yang berat. Ironisnya justru pemimpin-pemimpin yang ada sekarang malah duduk di belakang meja, bersembunyi dibalik barisan anak buahnya, dan merasa selalu benar, menyalahkan orang lain seolah dirinya sendiri tidak pernah salah, dan begitu penuh dengan tuntutan. Padahal ketika anak buah berbuat kesalahan, maka pemimpin turut andil dalam kesalahan tersebut karena tidak bisa memimpin dengan baik. Ketika anak buah pergi maka pemimpin seharusnya membaca diri, apa yang telah ia perbuat?
Pernah dengar kisah tentang sahabat Rasulullah? Dua orang umat Rasul diharuskan melakukan perjalanan jauh dengan sebuah unta. Yang seorang adalah mantan budak dan seorang lagi adalah mantan bangsawan. Karena merasa lebih rendah dari teman seperjalanannya, si mantan budak berkata,
”Saudaraku, pimpinlah perjalanan ini dan aku akan menjadi anak buahmu.”
Lalu temannya menjawab.
”Tapi memimpin itu bukan tugas yang mudah.”
”Kumohon, saudaraku. Engkau lebih pantas menjadi pemimpin daripada aku. Naiklah ke atas unta dan aku akan patuh menuntunmu.”
”Baiklah” sang mantan bangsawan pun turun dari untanya dan menarik tali kendali sambil berkata,
”Aku akan memimpin perjalanan ini. Kau anak buahku, naiklah ke atas unta.”
”Tapi engkaulah pemimpinnya, saudaraku. Engkaulah yang seharusnya berada di atas unta.”
”Tidak. Aku akan memimpin di depan, memastikan jalan yang akan kau lalui aman dan selamat. Aku akan memimpin di depan untuk membawamu menghindari lubang dan duri. Engkau anak buahku, akan kumpimpin sampai ke tujuan dengan selamat.”
Akhirnya sang anak buah pun menyesal telah meminta temannya untuk memimpin, namun di saat yang sama ia justru menjadi anak buah yang paling patuh karena merasa dipimpin dengan baik.
Lalu apa bedanya dengan jadi Boss? Mengapa ada julukan ”bossy” untuk orang-orang yang suka mengatur?
Sekarang ini banyak orang yang memegang jabatan lebih tinggi dan seketika merendahkan mereka yang memegang jabatan di bawahnya. ”Merendahkan” bukan berarti menghina, memarahi, memaki, dan lain sebagainya. Tetapi merendahkan seolah dirinya lebih sempurna dari mereka. Memaksakan anak buahnya untuk bekerja lebih hanya karena sebuah alasan ”saya tidak mau menyelesaikannya sekarang”, merendahkan anak buahnya karena memiliki pendapat yang berbeda, tidak memaafkan dan di saat yang sama tidak sudi atau merasa tidak pantas untuk meminta maaf ketika sudah jelas-jelas melakukan kesalahan. Mengapa harus berkata ”saya mau kamu melakukan ini dan itu” seolah mereka adalah budak? Mereka adalah anak buah dan pemimpin membutuhkan mereka sebagaimana mereka membutuhkan pemimpin.
Wahai para pemimpin, entah apapun yang engkau pimpin. Sudah menjadi pemimpin seperti apakah dirimu? Apa yang engkau rasakan ketika pertama kali ditunjuk sebagai pemimpin? Jika wajahmu sumringah, maka harus engkau tanyakan lagi hatimu, untuk apa engkau mempimpin? Namun jika engkau merasakan tanggung jawab berat yang harus dipikul, maka yakinlah Allah akan membantumu untuk menjadi pemimpin yang baik. Tidak penting pengakuan dari orang lain, tidak penting penghargaan dari orang lain. Seribu orang menyembah sujud kepadamu lalu apa artinya? Akankah itu menjamin sesuatu? Akankah itu memberimu surga dan bahagia? Hanya kesombongan. Dan ketika berhadapan dengan Allah yang lebih besar (Allahu Akbar) maka kebanggaan diri itu hanya menjadi debu yang tertiup angin. Engkau menjadi pemimpin karena ada anak buah. Jika tidak ada anak buah engkau tidak akan menjadi pemimpin. Lalu apa yang sudah engkau berikan kepada mereka? Apakah sumbangan kepemimpinanmu akan dikenang??
Dalam hidup ini ada kalanya kita menjadi yang dipimpin dan menjadi pemimpin. Tergantung dimana kelemahan kita maka Allah akan memberikan posisi itu sebagai pelajaran utnuk memperbaiki diri. Sudahkah kita menjadi anak buah yang baik? Atau sudahkah kita menjadi pemimpin yang baik? Jika merasa sudah menjadi pemimpin yang baik, tanyakan anak buah kalian, minta mereka untuk jujur, apakah mereka bangga memiliki pemimpin seperti kalian?
-Leader Series