Ada banyak perspektif ketika ciptaan yang satu ini diangkat ke permukaan. Kalau di brainstorming dan ditanyakan kepada para laki-laki, apa yang muncul dalam pikiran ketika mendengar atau melihat “wanita”? Jawabannya pasti bervariasi. Namun secara garis besar berorientasi pada fungsi atau peran yang menempel dengan kata tersebut: seks, cinta, yang melahirkan/ibu. Bagi laki-laki lainnya, dengan tipe-tipe tertentu, mungkin akan berbeda: disgusting, annoying, trouble. Ada juga yang menganggap wanita sebagai figur yang besar dan menakutkan, bukan takut karena ngeri tapi takut karena rasa tidak percaya diri. And so on…
Kalau dari sisi wanita sendiri, “wanita” means “me”. Walaupun ada juga yang menolak itu dan justru merasa “wanita” sebagai sesuatu yang ingin ia lepaskan. Mungkin perasaan yang satu ini tidak terbaca oleh orang lain, terutama laki-laki. Tapi ada kalanya jabatan ini begitu menyulitkan dan menyesatkan bahkan untuk diri sendiri. Dan tentunya sangat sedikit pemegang jabatan ini yang mengakuinya dengan gamblang. Bahkan menyadarinya juga tidak. Well, we are sometimes lost in ourselves.
Emosi merupakan tokoh utama dalam kehidupan wanita pada umumnya. Terlepas apakah dia tokoh jahat atau baik. Memang sih, sebenarnya si tokoh ini dibawah kendali sang sutradara, tapi seringnya ia begitu dominan dan mulai menentukan jalan ceritanya sendiri. Ada perasaan aneh ketika hal ini terjadi. Sebuah perasaan bertentangan yang sulit untuk dikontrol. Ketika emosi atau perasaan menginginkan sesuatu, di saat yang sama pikiran mengatakan bahwa tindakan yang sedang dipikirkan ini tidak masuk akal. Biasanya emosi akan memenangkan pertarungan dan pikiran pun hanya akan menjadi suami yang memaklumi istrinya. In the end, barulah datang penyesalan mengenai betapa bodohnya kita tadi! Haha…
Contohnya begini. Ketika emosi membutukan perhatian, butuh pujian, dari orang yang paling dicinta, akan muncul puluhan ide untuk mewujudkannya. Ide-ide ini sering memakan waktu lama nyangkut di pikiran karena rasa bertentangan tadi. Jadi kira-kira begini yang terjadi dalam benak wanita (mungkin pembaca bisa melihat maksud “lost in ourselves”):
- Mungkin meminta langsung lebih baik? Sayang, perhatiin aku dong! Ha! tapi kalau begitu nanti dia terpaksa melakukannya. Pilihan ini sering dihindari oleh wanita karena berbagai perasaan lain yang muncul.
-Bagaimana kalau melakukan sesuatu yang mencuri perhatiannya? Beli baju baru, merubah dandanan, melakukan aktifitas baru? Kalau pilihan ini biasanya dilakukan oleh wanita yang cukup kreatif dan mandiri. Kalau pasangannya bukan tipe orang yang cuek, umumnya akan berhasil. Tapi kebanyakan wanita malas untuk repot-repot begini. Atau gengsi. Nanti sudah susah-susah taunya gak berbalas.
-Bagaimana kalau merubah sikap? Membuat dia merasakan bahwa ada sesuatu yang berubah? Nah, kalau yang ini gambling. Karena Reaksi pasangan bisa jadi malah negatif dan berkebalikan.
-Pura-pura sakit atau disakiti? Biasanya wanita-wanita manja yang melakukannya. Wanita yang penuh rasa bergantung sehingga usaha yang satu ini terlihat begitu desperate dan memaksa. Seringnya hal ini gagal karena sebagian besar laki-laki malah merasa risih dengan kemanjaan yang berlebihan ini. Dan anehnya, biasanya wanita dengan karakter ini tidak kapok-kapok untuk melakukannya terus-menerus. Well, like I said.. desperate try.
-Ada yang justru menunjukan perhatian ekstra pada pasangannya. Hal ini dilakukan dengan harapan sang pasangan pun akan memberikan hal yang sama kepadanya. Biasanya yang melakukan ini wanita yang terlalu baik, ramah, lembut, murah senyum, tapi walau bagaimanapun juga kebutuhan itu tetap ada. Sering gagal usaha ini kalau pasangannya bukan tipe sensitif, dan sama juga, wanita tipe ini pun tetap tidak menyerah dengan usahanya.
-Ada yang justru menjadi dingin dan galak. Terkesan tegas dan tidak mau diganggu padahal justru sangat ingin diganggu. Aha! yang ini biasanya menjadi tantangan tersendiri bagi para lelaki pecinta wanita. Mungkin bagi para lelaki, karakter ini terkesan lucu, melihat sang wanita sibuk dengan dirinya sendiri yang butuh tapi gengsi. Biasanya wanita-wanita ini justru malah suntuk sendiri dengan kesendiriannya. Ia sering tidak dapat menerjemahkan perasaannya sendiri dan semakin putus asa karena mengharapkan sesuatu yang justru ia buang sendiri.
Masih ada kombinasi-kombinasi lainnya, namun secara garis besar, yang benar-benar kelihatan yang ini. Dalam kondisi sadar para wanita sering mengakui kebutuhannya, namun ketika tokoh utama tadi beraksi di depan layar berbagai penolakan a.k.a denial mulai bermunculan. Now, here’s a little secret, semakin besar denial nya, semakin besar kebutuhannya. Hehehehe but sometimes karena sifatnya yang samar-samar seperti ini, sering sulit untuk membedakan mana yang fakta dan bukan ketika wanita berbicara.
Intinya emosi. Feeling. Satu-satunya cara mengendalikan wanita adalah dengan memberinya rasa comfort. RASA bukan ALASAN atau PENJELASAN, atau hal lainnya yang diproduksi pikiran. Jadi kalau laki-laki menjelaskan berbagai alasan untuk sebuah hal yang membuat pasangannya marah, maka sering menjadi percuma. Mau selogis apapun, sesempurna apapun alasan yang sudah dirangkai tapi kalau itu tidak membuatnya nyaman, maka percuma.
Memang banyak juga wanita yang cukup pintar untuk membaca arah pikiran laki-laki. Melihat fakta dibalik alasan. Mendengar kenyataan lain di balik kata-kata yang lain pula. Toh, wanita memang ciptaan yang lebih tajam intuisinya sehingga sering mengetahui kebenaran tanpa perlu penjelasan logis. Kalau sudah begini satu-satunya cara adalah mengaku atau leave the ball to her. Kasih kendali kepadanya, terserah dia mau berbuat apa dan play along! Ikuti saja permainannya. Dengan begitu kebanyakan wanita akan merasa dihormati bahkan di saat yang tidak mengenakan.
Memang secara umum begitu banyak hal menyusahkan dalam diri wanita. But in the essence, wanita juga penuh dengan magic dan keindahan. Magic, ketika ia bisa merubah suasana hati, ketika ia bisa memunculkan rasa nyaman luar biasa, membuat sebuah interaksi menjadi kenangan manis, sebuah sentuhan memunculkan rasa hangat, cinta terasa ajaib bagi laki-laki karena sering membuatnya lepas kontrol dan menentang pikirannya sendiri sementara bagi wanita cinta adalah energi, keajaibannya adalah hal yang lumrah. Indah, bukan hanya secara fisik, tapi keindahan yang melengkapi dunia ini berasal dari wanita, dari our mothers. Rumah dan bangunan punya warna-warna, pakaian bisa berbentuk menarik, perhiasan, dan lain sebagainya. Dalam konteksnya sebagai ibu, wanita menjadi jauh lebih indah. Terlepas dari berbagai kebutuhan dirinya yang membuatnya sering tidak terkontrol, tapi loyalty dan dedication adalah dua hal yang bersinar dalam hati seorang ibu bahkan dalam kondisi seburuk apapun.
So here’s about woman. What are you going to do about it? Once, seseorang pernah mengatakan bahwa laki-laki adalah pemimpin dunia, raja, primary, dan superior dibandingkan wanita. Oleh karena itu menggunakan posisi itu untuk menjadikan wanita lebih indah, dan bukan mengeksploitasi demi kebutuhan ego or birahi, menjadi sandaran atau tempat bagi wanita untuk menari, melompat, mengeluarkan segala perasaanya, dan tetap memastikan bahwa ia merasa terlindungi, are the best things to do. Toh, jika wanita menjadi lebih indah, para laki-laki juga yang akan menikmati keindahan itu.
Emosi wanita adalah seperti rekening bank. Memberikan perhatian, kasih sayang, pujian, perlindungan, rasa bahagia, adalah deposit rekening perasaan sehingga saldonya bertambah. Mengecewakan, menyakiti, mengabaikan, mengkhianati, adalah penarikan rekening sehingga saldo akan berkurang. Jadi sebaiknya, menabunglah yang banyak sehingga ketika harus melakukan pengeluaran pengaruhnya tidak akan terlalu besar dan rekening tersebut masih terus aktif.
Well, what do you think? =)