Posted by: nisa | March 12, 2009

Krisis Karakter

Malam ini saya mendengar begitu hangatnya sebuah diskusi dengan pemimpin negara kita ini. Tidak jauh-jauh, Beliau mendiskusikan beberapa persoalan kepemimpinan dan juga negara Indonesia dari berbagai segi. Indah sekali rasanya berada dalam situasi itu. Ketika setiap orang bebas menyuarakan pendapatnya dan sang pemimpin mendengarkan. Apalagi masa sekarang ini sudah jarang pemimpin yang mendengarkan dengan posisi netral, tanpa memilih-milih informasi yang menguntungkan bagi dirinya atau tidak. Ini bukan kampanye lho!

Diskusi tersebut dilengkapi pula dengan kisah-kisah menyentuh dari para pejuang bangsa. Baik yang bertanda jasa maupun tidak. Kisah seorang Letkol di Banda Aceh yang tetap bertugas setelah tsunami padahal anak dan istrinya hilang diterjang ombak. Lalu pengabdian para guru, dan kesiapan sang pemimpin utama untuk bertindak cepat kapanpun dibutuhkan. Urusan penculikan, penyanderaan, dan keberanian untuk menerjang bahaya demi menetapi janji. Rasanya sudah lama sekali Indonesia tidak memiliki pemimpin seperti ini.

Hal ini membawa sebuah perenungan tentang bangsa ini. Memang jarang sekali semasa hidup saya muncul rasa nasionalis seperti ini sampai-sampai Indonesia menggenang dalam pikiran saya dan menjadi buah segar yang siap dikupas. Biasanya saya cenderung merasa apatis dan kecewa ketika menyebut nama Indonesia. Tapi ternyata saya salah. Sama seperti diri kita, jika kita terlanjur mencapnya negatif maka akan negatiflah selamanya. Saya sadar saya harus bisa melihat negeri ini dari sisi yang lebih positif.

Perenungan ini berangkat jauh ke zaman dahulu kala ketika Indonesia masih perawan dari penjajahan dan kehancuran. Dulu saya ingat sewaktu sekolah diajarkan guru sejarah betapa Indonesia sebenarnya negara yang ramah dan asri sebelum penjajahan terjadi. Sebuah karakter yang hangat dan terbuka terhadap dunia namun dimanfaatkan dengan keji oleh pihak luar. Ini mungkin yang menjadikan bangsa kita seperti ini hari ini.

Melihat Indonesia di masa setelah kemerdekaan, ada sebuah perubahan karakter yang cukup mengakar. Kalau kita lihat saat ini beberapa karakter negatif yang umum terlihat di wajah Indonesia adalah korupsi, mencari kesempatan dalam kesempitan, pembajakan, dan beberapa bentuk egoisme lainnya yang berdampak jelas terutama pada sektor birokrasi. Tidak heran jika dalam diskusi tadi malam disebutkan bahwa permasalahan birokrasi Indonesia terkesan seperti a never ending story.

Kita punya kekurangan. Di samping kekayaan alam dan juga junjungan nilai moral yang cukup baik dibandingkan dengan negara-negara lain. Di Indonesia, entah mungkin ada juga di negara lainnya, jalur khusus untuk berbagai hal masih sangat populer. Masih ada orang-orang yang mau menyalahi prosedur demi kepuasan pribadi. Di Indonesia, banyak pihak yang ingin melihat hasil-hasil instan dari keputusan pemerintah dan melakukan demo jika hasil tersebut tidak instan. Di Indonesia para wakil rakyat mendapat privilege luar biasa hanya dengan mendengkur di ruang sidang. Di Indonesia sebagian pejabat merasa nyaman hidup kaya dengan uang pajak yang kadang harus dibayarkan warga dengan keringat dan pengorbanan. Di Indonesia sebuah pilihan bisa dipengaruhi oleh uang dan janji-janji instan, dalam pemilu misalnya, modal rokok dan uang saku siapapun mau kampanye untuk partai apapun, namun nantinya protes ketika pemerintahan tidak berjalan sesuai keinginan. Di Indonesia harga hanya bisa bergeser naik dan hampir tidak pernah turun sekalipun pemerintah sudah membuktikan kemungkinan itu.

Masih banyak lagi sebenarnya. Terlepas dari permasalahan yang sama terjadi atau tidak di negara lain, ada baiknya kita merenungi diri sendiri. Jika ditelaah lebih dalam, permasalahan ini tetap berakar walaupun berbagai metode diimplementasikan untuk mengatasinya. Koruptor diberantas KPK namun di lingkup rakyat kecil masih terjadi walaupun kecil-kecilan. Dari mana datangnya ini semua? Apakah bangsa ini memang sudah sedemikian buruk rupa sejak dulu?

Kembali ke masalah penjajahan tadi. Ini hanya sebuah pemikiran saya. Indonesia adalah negara yang kaya, asri, ramah, hangat. Lalu datang para penjajah yang disambut ramah namun malah menggilas keramahan itu dengan kapitalisme. Selama kurang lebih 350 tahun Indonesia berada dibawah feodalisme dan tentunya hal ini memberi dampak luar biasa terhadap karakter bangsa yang tadinya ramah dan baik. Setiap orang tahu bahwa butuh waktu sangat lama untuk merubah perilaku seseorang. Nah, 350 tahun adalah waktu yang cukup lama dan tentunya telah merubah karakter Indonesia dalam beberapa generasi pada masa itu.

Semasa penjajahan, rakyat hidup di bawah tekanan, tindasan. Kebahagiaan dan kesenangan hanya menjadi iming-iming yang tak kunjung datang. Coba bayangkan kita hidup di masa itu. Makan saja sulit, harus menyenangkan majikan dulu. Kalaupun mau mengusahakan sesuatu ya harus dengan jalur-jalur yang dipaksakan. Kalau ingin mendapat nasi lebih banyak harus diam-diam mencuri tanpa sepengetahuan menir-menir yang sedang jaga. Ancaman hukuman agitasi begitu gamblang dan mudah diberikan. Bahkan nyawa pun tidak ada harganya. Anak-anak yang lahir dalam masa itu terbiasa dengan mayat bergelimpangan, siksaan, dan selalu mencari kesempatan hidup dalam keadaan yang paling sempit sekalipun. Hidup adalah sulit. Hidup adalah perjuangan dan setiap kesempatan harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Curang atau tidak bukan lagi masalah karena untuk menyambung hidup.

Bisa dibayangkan bangsa kita hidup seperti itu selama lebih dari 3 abad. Iya, 3 abad! Itu waktu yang sudah cukup untuk merombak sebuah sistem kehidupan dan sistem kehidupan seperti ini telah membentuk karakter-karakter baru yang terbiasa dengan mencari kesempatan. Akhirnya rakyat Indonesia pun lahir dan tumbuh dengan situasi mental seperti ini.

Setelah merdeka, kebebasan datang. Kebebasan, sebuah makhluk baru yang asing dan sudah hampir terlupakan. Penyesuaian pun perlu dilakukan agar terbiasa dengan kebebasan ini. Memang euforia kemerdekaan masih begitu membekas dan kehidupan baru pun mulai disusun. Orang-orang yang ikut serta dalam kemerdekaan tentu akan bersikap sebaik mungkin demi menjaga kebahagiaan negara tersebut agar tetap terus ada. Namun pola hidup yang selama 3 abad mereka lihat adalah seperti para penjajah selama mereka berdomisili di bumi Indonesia. Budaya original 3 abad yang lalu sudah tidak ada yang melestarikan dan kini Indonesia memulai sistem kehidupan baru. Rasa senang, nyaman, dan hasrat bebas yang sudah lama terpendam mengarahkan rakyat untuk melakukan berbagai hal baru. Mereka ingin merasakan menjadi bos, ingin kaya, ingin menjadi terkaya, ingin berkuasa, ingin merasakan kehidupan tuan-tuan mereka yang sudah pulang ke negara mereka yang selama ini mereka jilati telapak sepatunya. Hasrat ini begitu besar dan kadang bisa menggelapkan mata.

Sampai disini perjalanan karakter bangsa sudah mengalami transisi. Bukan lagi kaum tertindas tapi orang-orang yang penuh hasrat untuk merasakan kebebasan. Kebiasaan mencari keuntungan, mencari kesempatan masih membekas dan bergabung dengan hasrat kebebasan tadi sehingga melahirkan fenomena-fenomena baru. Setiap ada tekanan, Indonesia terbiasa secara otomatis mencari jalan lain terlepas dari benar atau tidak namun yang penting kebutuhan terpenuhi. Ada tekanan; harga DVD yang mahal. Sementara ada hasrat untuk hidup seperti orang Barat yang bisa dengan bebas menikmati hiburan film-film Hollywood, maka otak pun bekerja mencari jalan lain. Jadilah pembajakan. Krisis ekonomi, tapi masih ada saja orang-orang kaya yang mengimpor mobil termahal dunia. Dan lain sebagainya.

Kenyataan ini seolah menggambarkan betapa Indonesia negara yang sulit. Ada yang kelaparan, ada yang miskin, padahal kalau dilihat kekayaan alamnya begitu luar biasa. Hasil pertanian yang tak terbatas, nomor satu penghasil air biothermal di dunia, minyak juga ada, dan sumber daya renewable energy yang tidak sedikit. Jadi masalahnya dimana? Hutang, korupsi, birokrasi, dan lain-lain. Apa akar dari itu semua? Mana yang harus diperbaiki terlebih dahulu?

Permasalahan karakter ini memang sulit untuk dirubah. Namun jika ada yang memulai mudah-mudahan ada yang mengikuti. Kebutuhan figur pemimpin yang benar sudah mulai muncul dan Indonesia sudah bisa menyuarakannya. Tidak seperti sebelumnya dimana tampuh kepemimpinan dimonopoli oleh 1 orang. Kesadaran-kesadaran baru mulai muncul. Kelelahan untuk hidup dalam sistem yang carut-marut mulai diresapi oleh generasi baru Indonesia. Sistem pun mulai berubah. Dalam dunia kerja, profesionalisme mulai menemukan jati dirinya kembali. Tidak lagi dengan koneksi tapi analisis potensi dalam menerima tenaga kerja. Memang belum sempurna, tapi angin perubahan itu sudah mulai semilir.

Alhamdulillah, di tengah situasi yang sulit Indonesia mulai terlihat optimis. Permasalahan karakter yang paling mendasar ini mulai bisa diatasi dengan disiplin yang tegas dan role model yang kuat. Indonesia mulai memiliki kedua hal ini. Memang prosesnya masih lama. Tentu sulit memulihkan sesuatu yang sudah rusak berabad lamanya, namun usaha sekecil apapun pasti bisa memberikan dampak. Satu hal yang menurut saya paling penting adalah kita harus merasa menjadi bagian dari Indonesia. Bukan hanya sekedar kebetulan lahir disini dan asal ikut aturan yang ada. Ketika kita membicarakan bangsa Indonesia, tidak lain kita membicarakan diri kita sendiri. Kita selalu menuntut kehidupan yang lebih baik dan tidak bisa menyuruh orang lain memenuhinya untuk kita. Kita adalah bagian dari sebuah bangsa. Dengan kata lain kita adalah bagian dari orang lain, seburuk apapun mereka. Merubah diri, mengevaluasi karakter ke-Indonesia-an kita setidaknya akan memberikan pengaruh yang signifikan bagi orang terdekat di sekitar kita. Ujung-ujungnya kita akan bisa mengangkat sedikit karakter bangsa kita. Seperti kata pepatah “Think big, take small steps, start right now!”

Insya Allah Indonesia menjadi lebih baik.

Amin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.