Senang sekali rasanya, tanggal 9 kemarin adalah hari pertama saya menggunakan hak suara untuk memilih calon legislatif. Memang lucu, saya merasa senang hanya karena sudah menyontreng dan baru pertama kali setelah sekian lama, saya mengikuti pemilu. Mungkin ini yang menjadi perenungan sejenak mengapa jiwa itu timbul.
Dulu, terus-terang saya merasa pesimis dengan bangsa ini. Walaupun masih remaja (dulu) saya terkadang suka memikirkan hal-hal yang besar dan tidak menarik bagi teman-teman saya. Ya salah satunya soal bangsa ini. Tumbuh dewasa, saya banyak mengalami kekecewaan dan keheranan dengan budaya yang ada di sekitar. Esensi nilai yang berbeda-beda dan bentuk perilaku yang nyata sekali disebut sebagai “mental orang terjajah”. Bahkan sampai ke pemerintahan tertinggi sekalipun, tidak jauh berbeda. Greedy, selfish, monopoli, dan semua itu diselubungi nilai-nilai kenegaraan. Pernah sekali saya menonton acara berita tentang pemerintahan kita dan lalu teriak keras-keras, “Bull Shit!!” (mohon maaf).
Ketika sampai usia 17 tahun, mereka bilang “wah sekarang udah bisa ikut pemilu dong!” dan saya hanya merasa datar. Malah cenderung negatif seolah pemilu itu hal yang menyebalkan. Bagi remaja lain memang membosankan pemilu itu, tapi saya punya alasan yang berbeda. Pemilu = buang-buang waktu. Tidak ada pengaruhnya dan hanya menjadi ajang hanggar harga diri dan kekayaan. Malah jadi rusuh dan berbahaya. Jadi buat apa mendukung hal seperti itu?
Sekarang ini saya justru merasa senang. Sebenarnya ini hanya sebuah diskusi dengan diri saya sendiri dan akan menyenangkan sekali jika pembaca turut berkomentar. Saya merasa dibutuhkan dalam pemilu kali ini. Bukan bermaksud GR tapi karena saya tahu suara saya ada dampaknya, ada pengaruhnya, dan ada kemungkinan pertimbangan saya untuk memilih akan terwujud menjadi hasil nyata. Syukur Alhamdulillah beberapa tahun belakangan ini terjadi perkembangan baik dalam negara ini, baik secara fisik maupun mental. Memang masih minoritas tapi ADA. Itu saja sudah ‘ajaib’ buat saya dan baru kali ini nama Indonesia menghembuskan sedikit rasa cinta dalam diri saya.
Nilai kemajuan ini terlihat dalam berbagai aspek. Baik dari pemerintahan, dari dunia profesional yang pelan-pelan menjadi lebih obyektif dan tegas, pola hidup sebagian kecil masyarakat, dan pemikiran cendikiawan muda yang lebih terbuka dan wise, tidak berdasarkan panutan terhadap suatu golongan. Memang masih banyak yang ngelindur dan tidak tahu malu, tapi setidaknya ADA. Keberadaan itu merupakan sebuah hadiah manis bagi pecinta bangsa yang sesungguhnya.
Selain kondisi bangsa yang mulai berubah, kedewasaan juga mungkin menjadi salah satu faktornya. Semakin dewasa maka kita atau saya setidaknya lebih mengerti sistem dari kemasyarakatan ini, dapat melihat konteks yang lebih besar, dan konsep ‘celengan’ yakni kecil-kecil tapi menjadi gunung. Sebagai masyarakat seharusnya kita memposisikan diri kita seperti itu. Rasa percuma memilih mungkin juga didasari oleh tidak terlihatnya dampak langsung dari tindakan kita itu. Kalau kita memilih dan yang kita pilih langsung menang atau setidaknya sedetik setelah memilih langsung dapat jawaban menang atau tidak, mungkin orang tidak akan terlalu merasa percuma memilih. Konsep bahwa kita merupakan bagian dari gunung koin belum bisa diresapi semua orang.
Kedewasaan ini juga yang mengajarkan untuk bersabar terhadap hasil. Gejolak muda biasanya sulit menyabarkan diri untuk hasil yang jauh dari jangkauan walaupun sebenarnya penting. Ini juga yang menyulitkan pemerintah. Keputusan apapun bisa ditolak karena dampak langsung yang diterima sebuah golongan. Padahal ada kalanya kita dihadapkan dengan pilihan yang sama-sama buruk dan harus mengalahkan salah satu dengan resiko yang hanya kita tahu dan mau tidak mau harus terima hinaan orang. Ketika pemerintah berada dalam posisi itu kita pun gagal berempati.
Kedewasaan mengajarkan setiap orang untuk melihat lebih jauh, mau mengalah, bersabar, dan menempatkan diri sesuai dengan konteks peran dan situasi. Dalam hal ini, mungkin saja kedewasaan bangsa yang baru ini mengajarkan masyarakatnya melihat ke lingkaran yang lebih jauh, lebih luas, sehingga menyontreng bukan lagi menjadi kegiatan tidak penting tapi momen esensial dimana tanggung jawab sebagai pemangku identitas bangsa mendorong peran nyata demi kebaikan bersama.
Jadi bagaimana menurut pembaca sekalian? Apakah memang kedewasaan ini mendorong nasionalisme atau mungkin semata-mata hanya karena kondisi negara yang membaik? Jika negara kita masih sama keadaannya dengan orde lama apakah sama banyaknya orang yang antusias menyontreng seperti sekarang ini?